Sasakala Marongge

ira purnama
8 view / 7522 show
3 years ago
General

  1. Desa Puhun

Marongge merupakan salah-satu desa yang berada di Kabupaten Sumedang yang diapit oleh dua sungaiyaitu sungai Cilutung dan Cimanuk.Desa ini tidak terlalu besar,bahkan banyak lahan kosong milik perhutani. Walaupun desa kecil,tetapi banyak orang jauh datang ke Marongge. Hal itu disebabkan adanya makam keramat empat disanana.Dahulunya merupakan putri-putri yang cantik.Yaitu Nyi Maidah, Nyi Naidah, Nyi Gabug dan Nyi Setayu.Hidupnya sewaktu Kerajaan Sumedanglarang yang beraja Prabu Gajah Agung sekitar abad 16 atau tahun 1520-an.Banyak orang yang jatuh hati kepada empat puteri tersebut baik para raja maupun sinatria.Namun keempat puteri tersebut tidak menghiraukan orang-orang yang datang kepada mereka, serta mereka dapat menagkal ilmu pelet. Pelet adalah sejenis ilmu untuk mempengaruhi sukma atau perasaan manusia. Suatu hari, keempat puteri melemparkan buah kukuk ke tengah Cilutung. Buah kukuk mengambang ke hilir. Oleh keempat puteri melambaikan tangan kepada buah kukuk. Aneh, kukuk kembali lagi ke girang. Sukmanya tertarik oleh pengaruh ilmu pelet. “Siapa laki-laki yang bisa menguasai ilmu pelet seperti saya, maka saya mau menikah”..kata keempat puteri. Lalu, para raja dari berbagai tempat tidak ada yang sanggup. Nyi Maidah, Nyi Naibah, Nyi Gabug dan Nyi Setayu, tidak pernah punya suami. Sebab tidak ada laki-laki yang mengungguli kemampuan mereka sampai mereka meninggal. Sekarang, makamnya dikeramtkan dan banyak orang berziarah kesana. Disebut Marongge pada zaman-zaman baru ini. Karena, waktu keempat puteri masih hidup, dikenalnya dengan Desa Puhun dan ada juga yang menyebut Desa Kalahan Asih. Suatu waktu, ada seorang yang dating dari tatar Galuh. Disebutnya Aki Rantet, menyebut Desa Marongge yaitu Desa Panawa yang berarti “Dewi Pelet”. Aki Rantet datang dari Galuh, sebab ingin membuktikan bahwa di Marongge ada satu ilmu kebatinan yang bisa mempengaruhi sukma. “Saya tidak percaya pada ilmu mempengaruhi sukma. Sukma hanya dikuasai oleh orangnya. Yang lain, tidak akan bisa mempengaruhi sukma orang lain,” kata Aki Rantet. Tapi saat tiba disisi Cilutung, Aki Rantet tidak menemukan keempat puteri, serta makam ada sebanyak empat buah. Tepatnya di satu pesisir yang tidak jauh dari Cilutung. “Ini. Makamnya siapa?” kata Aki Rantet. “Yang ini makamnya Nyi Maidah!” jawab penduduk. “Kalau yang ini?” “Yang itu mah, makamnya Nyi Naibah..” “Yang dua lagi, pasti makamnya Nyi Gabug dan Nyi Setayu,yah?” Aki Rantet bercerita terlebih dahulu. “ Ternyata anda tahu?” penduduk bertanya heran. “Ah…hanya asal jawab saja. Tapi nama dari keempat puteri yang cantik dari Desa Puhun, terkenal sampai jauh. Orang dari tatar Galuh juga pada tahu. Cuma saya, orang Galuh yang tidak percaya. Apalagi sekarang orangnya sudah tidak ada,” kata Aki Rantet sambil cemberut karena jauh-jauh datang kesana, namun yang dicari sudah tiada. “Orang nya memang sudah tiada, namun ilmunya masih berbekas. Itu, di tempat bekas Karatuan Kalihan,” kata penduduk menunjukkan. “Euleuh, ternyata disini ada Karatuan?” “Ada. Meski kecil, tapi nyata keberadaannya. Semuanya ada empat.” “Ada empat karatuan kecil?” “Ada empat Karatuan kecil.” “Coba, sebutkan yang pertama tadi, Karatuan Kalihan, yang jadi ratunya Prabu Artadhika Walangsangsang.” “Yang kedua?” “Yang kedua, Karatuan Galuhjaya, yang jadi ratunya Prabu Tereng Agung. Yang ketiga, Karatuan Tayang Agung, yang jadi ratu Prabu Sulaksa. Yang keempat Karatuan Jeujeur Huni, dirajai oleh Prabu Gajah Arcadenta. Itu semua kerajaan kecil yang terkenal ke Sumedanglarang dan Pajajaran. “Iya, sayang yah. Padahal saya kesini datang ingin menjajal keilmuan,” kata Aki Rantet menyesal. “Kan kata saya juga, ingin ilmu mah, datang saja ke bekas tempat Karatuan Kalihan.Yang punyanya, merupakan wanita-wanita cantik! Semua berguru kepada empat puteri,” kata penduduk. “ Kebiasaan saya dulu bertengkar dengan wanita!” omong Aki Rantet. “Tidak usah berebut ilmu dengan cara bertengkar. Katanya mau menejajal ilmu pelet kan?” “Euh,gitu,yah? Kalau gitu, saya mau menjajal!” “Silahkan, tapi harus hati-hati. Sudah banyak laki-laki yang jadi korban!” “Mau dicoba saja,” timpal Aki Rantet berbesar hati. Bergegas Aki Rantet berburu ketempat yang dituduhkan oleh orang itu. Karatuan Kalihan, tepatnya di satu pesisir kecil. Masih ditempat yang dekat ke Cilutung. Kerajaan kecil. Dibawah kerajaan Sumedanglarang. Cuma sekarang sudah tidak ada. Kata beberapa orang dikatan menghilang. Kata beberapa orang lagi menyebutkan, hancur karena peperangan. Cuma yang jelas, saat Aki Rantet datang, kerajaan tinggal bekasnya. Bekas keraton, yang diisi oleh wanita-wanita. Muda dan cantik. Aki Rantet, waktu itu sudah berumur. Sudah tidak tergoda dengan rupa wanita. Yang menyebabkan, waktu diingatkan bahwa sekumpulan wanita bisa pelet, Aki Rantet tidak takut.” Aku tidak akan tergoda oleh kecantikan. Sukma saya tidak akan tertarik,” kata Aki Rantet di dalam hatinya. “Ada apa aki-aki datang kemari?” kata satu perempuan muda yang paling cantik. “Saya dari tatar Galuh. Datang kemari ingin menjajal ilmu penarik sukma. Katanya yang tinggal disini, muridnya empat puteri,” kata Aki Rantet. Mendengar begitu, para wanita itu tertawa cekikikan. “Bukannya tergoda. Jiwa saya lebih kuat daripada ilmu andika,” kata Aki Rantet. Tapi omongan Aki Rantet tetap ditertawakan. Tidak peduli, Aki Rantet tetap menantang. Lalu, sekumpulan wanita yang cantik-cantik itu melambaikan tangan agar Aki Rantet ikut ke sisi sungai. “ Ayo atuh Aki kesini,hayu… “ seorang melambaikan tangan menggunakan selendang. Waktu selendang dilambai-lambaikan, hati Aki Rantet terasa bergetar. Aki Rantet menguatkan diri supaya jiwanya tidak terpengaruh. Namun, semakin selendang dipakai untuk melambaikan, semakin terasa ada tenaga ghaib yang menarik jiwa. Aki Rantet sampai ingin menghampiri. Sambil hatinya bergetar, kakinya lemas. Namun terus berjalan tidak bisa dilarang-larang. Keringat bercucuran dari sekujur badannya. Ada rasa yang aneh. Itu rasa yang dulu keluarnya waktu masih muda. Sekarang bisa terasa lagi. Aki Rantet terkejut. Sembari sesak nafas, dia mencoba menahan langkah. Hatinya melawan supaya tidak menghampiri lambaian selendang. Sembari badannya gugup dan hatinya bergetar, Aki Rantet berteriak kencang. Sesudah itu, badannya terjun ke tengah-tengah sungai. Byur!Aki Rantet meneggelamkan dirinya. Sambil terbawa oleh arus air, Aki Rantet terus tenggelam. Sesudah perasaannya jauh dari tempat itu, Aki Rantet baru berani muncul keatas. Kelihatan oleh penduduk yang lewat. Dengan begitu buru-buru ditolong. “Kenapa, Aki,kenapa?” kata yang lewat. Aki Rantet tidak bisa menjawab. Kerjanya Cuma ngos-ngosan saja. Sesudah agak lama baru memberi tahu. Bahwa dia ingin menjajal ilmu pelet tapi tidak bisa. “Malah saya yang hampir celaka. Kalau tidak bisa menceburkan ke air, tak tahu bagaimana nasib saya seterusnya…”kata Aki Rantet. Orang yang lewat itu mengiyakan. “ Segitu saja Aki masih untung bisa melawan. Para laki-laki disni banyak yang tergoda, tidak berdaya. Runah tangga berantakan. Berpisah dengan anak dan istri. Hidupnya jadi blangsak. Itu gara-gara pellet..” kata orang itu. Katanya dia dengan sekumpulan laki-laki yang sudah sadar, ingin mengupayakan, bagaimana caranya menghilangkan tukang pellet. Tidak lama kemudian, para lelaki di desa tersebut berdiskusi. Kesimpulannya, semua tukang pellet di desa itu harus musnah. “ Tapi bagaimana cara menemukan wanita tukang pellet di desa ini?” kata Aki Rantet. Ditanya begitu, para lelaki yang ada pada bingung. Sebab, wanita-wanita yang bisa pelet bereda dimana-mana. Ada yang terang-terangan mengaku. Tapi banyak yang menyamar. “Yang bahaya itu yang menyamar. Mereka pura-pura tidak bisa apa-apa. Diam-diam mereka memoroti harta banyak laki-laki yang tergoda. Kalau sudah bangkrut, si perempuan segera meninggalkan, untuk mencari korban lainnya. Itu jahatnya keterlaluan,” kata laki-laki yang berpengalaman tergoda oleh pelet. Rumah tangga berantakan. Kekayaannya habis diporoti oleh wanita-wanita tukang pelet. “Tidak usah bingung mencari yang tidak ada. Jika para perempuan yang ada dan nyata tukang pelet, harus langsung dimusnahkan!” kata yang lainnya. Kalau sudah begitu, mulai saja diskusi. Gimana caranya memusnahkan para wanita yang dianggap jahat yang suka menghancurkan rumah tangga orang lain. Saat malam mendekati subuh, sekelompok laki-laki mendatangi rumah tukang pelet. Awalnya yang jelas-jelas sudah berkomplot. Yaitu yang rumahnya di bekas Karatuan Kalihan. Waktu para wanita sedang tertidur, segera disandera. Wajahnya ditutupi dengan sarung. Sesudah itu, diangkut ke sisi Cilutung. Para wanita itu dianiaya oleh para lelaki. Ada yang dipukuli tanpa perasaan. Ada yang jambak rambutnya. Malahan ada wanita yang disembelih dengan golok tajam. Sesudah itu, para tukang pelet yang berada di bekas Karajaan Kalihan habis, para lelaki mengunjungi tempat-tempat lainnya. Hanya wanita yang dicurigai sebagai tukang pelet disandera.Dibawa ke sisi Cilutung. Sesudah dibunuh, kainnya dibiarkan mengambang di sungai. Sebab, tidak tahu yang mana yang tukang pelt yang mana yang bukan, para lelaki dengan seenaknya menentukan cirri. “Cirinya, kalau mereka cantik, harus dibunuh” kata yang usul. Banyak yang tidak setuju dengan usul itu. Tapi tetap dijalankan oleh para lelaki. Jadi, wanit yang cantik, pasti dibunuh. “Kesininya baru ketemu alasannya. Yang cantik harus dibunuh, sebab ada lelaki yang sakit hati, keinginannya tidak dilayani. Sampai beberapa tahun, di desa itu terasa sepi. Beberapa tahun di desa itu tidak ada wanita terutama yang cantik.

2.Pada Jaman Penjajahan

Sesudah puluhan tahun, Desa Puhun tidak terdngan ceritanya. Terdengar lagi pada masa penjajahan. Pada jaman Portugis datang ke tatar Sunda, Desa Puhun sudah tercatat oleh orang Portugis. Malahan sudah ada orang Portugis yang mengembara ke tempat itu. Datangnya dengan perahu besar. Awalnya datang di Muara Sungai Cimanuk, yaitu disekitar Indramayu. Sesudah itu, perahu masuk lagi ke muara Sungai Cilutung. Tiba di desa Puhun. Hanya saja pada jaman Portugis tidak ada kejadian-kejadian penting. Diketahui kejadian-kejadian pentingnya pada saat jaman Belanda. Tahun 1700-an, Desa Puhun belum termasuk ke peta kekuasaan Belanda. Padahal hutan-hutan jati sudah ditanam oleh orang Belanda. Hasilnya juga untuk kepentingan mereka. Lurah Desa Puhun yang bernama Adih Purnamantanta, jadi Lurah pada tahun 1787. Dia mulanya membela Belanda. Namun, setelah tahu, Belanda tidak berpihak kepada rakyat, Adih juga jadi benci pada Belanda. Lurah Adih dibantu oleh tiga orang. Mereka orang-orang yang paling kaya di jaman itu. Yang satu namanya Sultan Khohreun, turuna Portugis. Yang kedua Atmadijaya, orang Sunda. Dan yang ketiga Tuan Mark Rongghestan atau Mark Ronghest, orang Belanda. Tiga orang tersebut, memebla rakyat. Mereka pun jadi benci pada Belanda. Sama benci terhadap Belanda yaitu Tuan Mark Rongghes. “Ik tdiak suka dengan bangsa ik yang suka menganiaya bangsa jij!” kata Tuan Mark rongghes bercerita kepada Lurah Adih. Oleh karena itu, Tuan Mark Rongghes lebih suka berkumpul dengan rakyat, daripada dengan bangsanya sendiri. Jika ketiganya sedang berkumpul, yang didiskusikan, bagaimana caranya mengusir bangsa Belanda dari Desa Puhun. “Kekayaan Desa Puhun, yaitu kekayaan bangsa jij. Sangat tidak baik jika diambil oleh Belanda!” kata Tuan Mark Rongghes. Semua setuju melawan Belanda. Jauh sebelumnya juga, sudah ada rakyat yang berani melawan. Rakyat benci. Sebab orang Belanda datang ke sana, berniat untuk mengusai. Awalnya rakyat buat tertarik supaya melepaskan hak tanah dan kebun. Sesudah itu, tanah dan kebun, termasuk hutan jati, dimiliki. “Ini ada surat-surat sah dari VOC yang menyebutkan tanah disini punyanya VOC. Saat itu, ik punya hak mengurus ini tanah,” kata tuan Belanda yang tak dikenal namanya. Sebab datang-datang yang mengaku bahwa tanah disitu punya mereka. Yang dipakai pegangan oleh VOC yaitu surat-surat. Padahal, di jaman itu, rakyat tidak punya surat-surat pada kepemilikan tanah. Menurut Belanda, kepemilikan yang sah harus ada pada surat-surat yang distempel oleh VOC. Akhirnya, di Desa Puhun, Belanda dan rakyat berebut tanah. Setiap waktu ada saja keadian pertengkaran. Malahan tidak kurang-kurang kejadian rajapati juga. Desa Puhun oleh Belanda dianggap desa sangar yang penuh bahaya. Memang begitu. Ke sini nya, setiap ketemu Belanda, orang desa pasti menjauh. Begal kecil-kecilan sering terjadi. Sewaktu-waktu pihak Belanda yang jadi korban. Sewaktu-waktu pihak rakyat yang tewas. Suatu hari, ada kejadian pembegalan. Sekumpulan rakyat, mengadu harapan dengan sekumpulan kelompok Belanda. Sekumpulan rakyat menggunakan senjata tradisional. Sedangkan Belanda menggunakan pistol dorlok. Golok melawan pistol. Pasti banyak rakyat yang kalah. Korban bergeletakkan ditengah hutan jati. “Serbu!Serbu!” kata rakyat yang belum kalah sambil mengangkat golok. Tapi, sebelum mereka mendekat, sudah tertembak oleh pistol dorlok. Tetapi karena pistol dorlok hanya dibebaskan sekali-kali, maka beberapa rakyat ada yang berkesempatan untuk medekati Kompeni. Kalau sudah seperti itu, rakyat juga dapat membalas beberapa kali menaggalkan goloknya. Namun tetep saja, yang banyak korbannya dari kalanagan rakyat. Walau begitu, untuk sementara, anggota kompeni kabur meninggalkan teman-temannya yang jadi korban. Pertempuran pati di hutan jati selesai. Keluarga korban melapor ke Lurah Adih sambil bersedih. Ada isteri yang kehilangan suaminya. Ada orang tua yang kehilangan anaknya. Dan ada anak yang kehilangan orang tuanya. Suatu sore, datanglah seorang wanita muda, cantik camperenik. Tapi datang ke rumah Lurah Adih sambil menangis terisak. Wanita itu bernama Nanah Darmi. Dia melapor bahwa bapaknya menjadi korban kejahatan kompeni. Bahkan yang menjadi gara-gara keributan pati itu, yaitu urusan bapaknya. ‘Iya, kami juga sebenarnya ingin mendengar laporan yang jelas. Apa sebabnya kejadian pati begitu sadisnya?” kata Lurah Adih. Dengan begitu Nanah Darmi menerangkan kejadiannya. “Bapak dicegat ditengah-tengah jalan di hutan jati. Kata kompeni, bapak sudah berani menggunakn lahan tanah milik kompeni. Tapi sebenarnya tanah itu milik turun-temurun dari nenek buyut. Masa tiba-tiba jadi miliknya kompeni?” kata Nanah Darmi sakit hati. Katanya, bapaknya digusur dibawa ke hutan. Bapanya Nanah menginggal saat itu juga. Bajunya ditemukan oleh orang yang mencari kayu bakar. Sudah itu, si pencari kayu bakar laporan kepada orang desa. Dengan tanpa pemikiran panjang, sekelompok rakyat mendatangi tempat kompeni. Kalau sekarang temapat itu berada di daerah Kadipaten. Beberapa orang anggota kompeni Belanda kaget dan sekelompok anggota kompeni membalas. Sekarang giliran mereka yang melawan. Namun sebelum datang ke desa, sudah dicegat di jalanan hutan jati. Disitulah kejadian perang patinya. “Saya juga sudah tidak suka dengan tingkah-laku orang kompeni. Sudah waktunya rakyat Desa Puhun, bersatu melawan musuh!” kata Atmadijaya dan Sultan Khohreun. Kalau Tuan Markronghes malah tidak ada. Bisa jadi dia tidak tahu ada keributan di Desa Puhun. Tidak adanya beliau bukannya dia kemana-mana. Namun dia sedang melatih militer. Secara diam-diam, Tuan Markrongghes melatih militer kepada sekumpulan orang desa Puhun. Maksudnya, supaya orang desa bisa menggunakan pistol. Mark Ronghes memang tidak tanggung-tanggung membantu orang desa Puhun. Tidak cukup dengan melatih ilmu kemiliteran. Tapi juga sambil memberi beberapa pistol dorlok. Sedangkan pistol itu hasil curian dari tempat kompeni. Mencurinya sewaktu Mark Ronghes masih jadi anggota militer. Tapi secara diam-daim, hatinya tersentuh pada perjuangan rakyat Desa Puhun. Waktu keluarga laporan, Tuan Mark Ronghes baru tahu pada kejadian itu. Lalu dia terburur-buru mendatangi Lurah Adih. “Tuan Adih, kenapa tidak member tahu ik bahwa desa diserang kompeni?” kata Tuan Mark Ronghes menyesal. Sekelompok rakyat yang sudah latihan militer juga menyesal. Malahan marah besar. Kemauannya, waktu itu juga ingin menghancurkan markas di Kadipaten.Tapi Lurah Adih menyuruh jangan dulu. “Jangan buru-buru. Kita harus mengatur kekuatan. Jangan menyepelekan Kompeni lagi. Sebab, mereka juga sekarang pasti sedang siap-siap. Yang penting, pikirkan dulu, bagaimana perjuangan melawan Kompeni bisa berhasil,” kata Lurah Adih. Kemarahan rakyat yang baru saja belajar militer bisa terkendali. Mereka menurut waktu disuruh pulang dulu. “Sebab besok lusa, kita bakal berdiskusi mengatur siasat,” kata Lurah Adih. Waktu rakyat sudah pulang, Lurah Adih memanggil Tuan Mark Ronghes. “Tuan, ada hal yang harus dibicarakan sebentar,” kata Lurah Adih. Tuan Mark Ronghes mendekati Lurah Adih. Dia penasaran, ada obrolan apa lurah memanggil. Lurah Adih menerangkan bahwa tadi kedatangan Nyi Nanah Darmi. “Dia bilang sambil menangis, katanya bapaknya yang jadi korban, “ kata Lurah Adih. Mendengar itu, Tuan Mark Ronghes kaget, dari kaget jadi marah membara. “Kurang ajar Si Belanda.?” Katanya. Tidak sadar bahwa dia juga masih bangsa Belanda. “Sana hampiri Nyi Nanah Darmi. Bagaimanapun juga harus menghibur dia. Kasihan..” kata Lurah Adih. Baik Tuan Khohreun maupun Atmadijaya juga sama menyarankan supaya Tuan Mark Rongghes datang ke tempat tinggalnya Nyi Nanah Darmi. “Iya mending datangi. Siapa tahu sekarang ada perubahan dihatinya,” kata Atmadijaya. Tuan Mark Rongghes melamun putus asa. Tapi akhirnya dia menuruti kemauan teman-temannya. Tuan Mark Rongghes harus menemui Nyi Nanah Darmi.

3.Pengorbanan Mark Rongghes

Sebelumnya, kita perhatikan dulu cerita Tuan Mark Rongghes. Mark Rongghes memang Belanda tulen. Datangnya ke Pulau Jawa juga ikut jadi anggota militer Kompeni atau VOC. Dia ditempatkan di tempat tatar Sunda. Tugasnya di Kadipaten. Kalau sekarang bawahan Kabupaten Majalengka. Walaupun dia bangsa Belanda dan anggota Kompeni, namun dia tidak setuju dengan siasat VOC. Dia memperhatikan, Kompeni yng tadinya datang ke Nusantara ingin dagang rempah-rempah, kenapa jadi berubah jadi ingin menguasai tanah. Dengan rupa-rupa siasat, Kompeni membuat rekayasa. Membodohi dengan cara licik bangsa pribumi. Yang penting tanah-tanah penduduk asli pindah kepemilikannya. Sedangkan merebutnya dengan cara kekerasan. Memaksa dengan menganiaya, sudah jadi kebiasaan.Mark Rongghes tidak setuju. Hati kecilnya memilih berpihak kepada bangsa pribumi. Sewaktu orang desa Puhun melawan kekejaman Kompeni, dia ikut membela. Caranya dengan cara melatih kemiliteran. Dengan mencuri pistol-pistol dari gudang-gudang yang ada di markas Kadipaten. Pertamanya, hal itu tidak diketahui. Namun, karena Kompeni sering melihat barang kemiliteran hilang, ada bukti jelas, Mark Rongghes jadi bulan-bulanan. Mark Rongghes dikejar-kejar untuk dibunuh. Namun, Mark Rongghes keburu kabur. Dia memilih kabur, dan sembunyi di hutan-hutan jati yang ada di Desa Puhun. Akhirnya Mark Rongghes juga bergabung dengan Lurah Adih. Dia memimpin perlawanan ke Kompeni. Selama tinggal di Desa Puhun, Mark Rongghes naksir pada Nyi Nanah Darmi.Orang tua nya belum menyetujui, anaknya mendapatkan bangsa Belanda. “Orang Belanda the jahat ke kita. Masa kamu harus mendapatkan orang seperti itu. Banyak laki-laki di Desa Puhun yang lebih baik,” kata bapaknya dulu.Orang Desa Puhun banyak curiga terhadap bangsa Belanda. Walaupun Tuan Mark Rongghes sehari-harinya dengan penduduk. Tapi kata bapaknya, tetap saja dia Belanda. Oleh sebab itu, Nyi Nanah Darmi bimbang menerima cinta Tuan Mark Rongghes. Namun, sepertinya Tuan Mark Rongghes tetap cinta pada Nyi Nanah Darmi. Buktinya, waktu Lurah Adih menyuruh mengahampiri Nyi Nanah, Tuan Mark Rongghes mendatangi rumah Nyi Nanah Darmi. “Iya, maaaf ik tidak bisa membela bapak jij. Kalau waktu itu ada ik, belum tentu bapak jij meninggal,” kata Mark rongghes sedih. Nyi Nanah Darmi cuma tertunduk sambil menangis. Melihat itu, Tuan Mark Rongghes maikn merasa kasihan. Hatinya juga tetap mencintai Nyi Nanah darmi. Penasarab dengan isi hatinya, Tuan Mark Rongghes sudah mencoba lagi menyatakan persaannya. “Nyai sekarang sudah tidak punya siapa-siapa. Ibu meninggal, bapak meninggal. Kalau percaya, oleh ik dinikahi. Bagaimana?” kata Tuan Mark Rongghes. Dia bertanya sambil menatap tajam.Namun yang ditatap malah semakin nunduk. Serasa mendadak. Urusan cinta Mark Rongghes sudah lama dilupakan. Semenjak kena musibah, ditinggalkan mati oleh bapaknya. Masa sekarang tahu-tahu mau menikah? Nyi Nanah Darmi juga masih ingat dengan ucapan bapaknya.Mark Rongghes adalah Bangsa Belanda. Bagaimana pun dia bakal mementingkan bangsanya. “Bagaimana Nyai, mau dinikahi ik?” kata Tuan Mark Rongghes sudah nanya lagi. Sampai selama itu, Nyi Nanah Darmi nunduk melamun. Namun, setelah bditanya kembali, baru Nyi Nanah Darmi menjawab. “Saya mau dinikahi asal Tuan bisa memperlihatkan kesetian pada bangsa saya,” jawab Nyi Nanah. “Bagaimana caranya supaya ik terasa ada kesetiaan pada orang sini?” Tanya Tuan Mark rongghes. Lalu, Nyi Nanah menerangkan. Bahwa orang Desa Puhun sudah banyak yang jadi korban keganasan pasukan kompeni. “Mungkin saya jadi korban keganasannya mereka. Kalau benar Tuan Mark bela terhadap kami, silahkan balas kesakitan kami!” kata Nyi Nanah Darmi. “Ik sanggup membalas. Oleh ik yang punya dosanya akan diseret ke desa ini. Oleh ik juga yang punya dosanya pasti dihajar!” Tuan Mark Rongghes menyatakan kesanggupannya. Kalau sudah begitu, Nyi Nanah Darmi mengangguk. “Saya baru mau dinikahioleh Tuan, kalau yang membunuh bapak saya juga dibunuh.” Kata Nyi Nanah. Untuk kedua kalinya Tuan Mark Rongges mengangguk setuju. Tidak lama kemudian, Tuan Mark Rongghes mengadakan pengumuan. Dia bertanya pada orang desa Puhun yang selamat dari keganasan kompeni.”Siapa kira-kir yang sudah membunuh bapaknya Nyi Nanah? Kata Tuan Mark Rongghes. “Kalau kata Ki Karmidun, yang langsung membunuh bapaknya Nyi Nanah dikenalnya Menir van Dehren Rickse,” kata yang ditanya. Sesudah ada berita itu, Tuan Mark Rongghes pertama membuat siasat. Bagaimana caranya mendatangi Menir van Dehren. Tapi Tuan Mark Rongghes sudah jadi incaran pasukan Kompeni. Dia tidak bisa seenaknya ke markas Kompeni. Salah-satu cara, harus diintip-intip kapan lengangnya. Kebetulan ada beberapa orang rakyat yang mau membantu usaha Tuan Mark Rongghes. Mereka membantu berpikir, kapan lengangnya Menir van Dehren. “ Pada hari-hari yang jelas, mereka suka mendatangi hutan jati miliknya, di tempat Jatigede,” kata seorang rakyat. “Euh..begitu,yah?” “Tapi Tuan, kalau dia suka datang secara bergerombol dengan kelompok Kompeni nya,” kata yang lapor. “Kita pikirin saja, bagaimana caranya..” kata Tuan Mark. Di suatu waktu, datang lagi yang laporan. Bahwa besok,pagi-pagi, Menir van Dehren akan mengadakan kunjungan lagi ke Jatigede. “Dia dikawal oleh anggota 10 orang Kompeni..” kata yang lapor. “Kalau begitu, ik besok mau mencegat di tengah hutan,” kata Tuan Mark. “Kami ikut!” kata seorang. “Kami juga ikut” kata lima orang. Jadi, sekarang kita 6 orang dari Desa Puhun yang akan membantu Tuan Mark Rongghes mencegat Menir van Dehren dan kelompoknya. “Hayu ikut. Syaratnya harus nurut sama siasat yang dijalankan oleh ik,” kata Tuan Mark. Oleh sebab semangat ingin ikut, yang 6 orang mengangguk. Semua setuju dengan persyaratan. Mau nurut dengan aturan yang dijalankan. Tiba pada waktunya, rombongan yng tujuh orang, waktu subuh pergi ke hutan jati. Sampai disana, Tuan Mark Rongghes mengatur siasat. “Kalau rombongan Menir van Dehren sudah muncul, kita harus dibagi dua. Sebagian harus menggoda teman Kompeni supaya mengejar-ngejar. Dengan begitu, Menir van Dehren akan ditinggalkan sendirian. Itu bagian ik,” kata Tuan Mark. Semuanya mengerti dengan siasat itu. Yang empat orang yang kebagian tugas menggoda kelompok Kompeni. Kalau Tuan Mark Rongghes, akan memperhatikan lenganngnya Menir van Dehren. Dia dibantu dua orang. Pagi-pagi, waktu matahari baru terbit, benar saja ada rombongan Kompeni datang ke hutan. Jumlahnya belasan. Artinya, melebihi dari hasil perkiraan sebelumnya. Namaun yang Tuan Mark Rongges bahagia, pada rombongan memang ada Menir van Dehren. Menir van Dehren naik kuda. Ada ditengah-tengah pasukan. Tuan Mark Rongges mengintip dengan dua orang temannya. Menunggu rombongan Kompeni lewat. Saat itu, jauh agak depan, temannya ada empat keluar dari serakan sampah. Mereka sambil mengangkat-angkat golok. “Heh,kompeni edan! Kalau berani, lawan saya!” kata salah seorang mengangkat golok. Yang seorang lagi, malah menungging, sambil melorotkan celana pangsinya. “Kejar kunyk itu!” Menir van Dehren merintah anggota Kompeni. Dia marah merasa dihina.Sekelompok Kompeni berlari dengan kuda, mengejar orang yang menantang. Tapi yang sisanya tidak dapat ikut mengejar ada sekitar lima oranagn. Artinya, Tuan Mark Rongghes tiga orang akan menghadapi musuh sebanyak enam orang. “Yang lima orang akan kami lawan berdua. Tuan harus berhasil membunuh Menir van Dehren,” kata teman Mark rongghes. Tuan Mark Rongghes mengangguk tanda setuju. Sesudah yhu pasukan musuh dibagi dua, Tuan Mark Rongghes juga keluar dari persembunyiannya. Menir van Dehren kaget seketika. Tapi dari kaget jadi marah.Siapa pun juga,seluruh Kompeni benci dengan Mark Rongghes.Disebutnya juga manusia khianat tidak punya harga diri.Menir van Dehren dan kelima anak buahnya berpencar, mengahadapi tiga orang. Tapi temannya Tuan Mark Rongghes dua orang, sengaja mengatur supaya Kompeni yang lima orang hanya menyerang mereka berdua.Benar saja Kompeni terpancing. Yang lima orang menyerang dua orang.Kalau Tuan Mark rongghes dibiarkan supaya menyerang Menir van Dehren.Dua-duanya menyerng menggunakan golok.Begitu juga Kompeni yang lima orang,menyerang menggunakan gobang.Sedangkan dua orang lawannya menggunakan golok.Dikepung oleh lima orang, teman Tuan Mark Rongghes kepepet.Malah yang satu orang sudah tewas.Dia berteriak agar Tuan Mark Rongghes harus berhasil membunuh Menir van Dehren.”Cepat takutnya kelompok Kompeni keburu balik lagi!” kata yang selamat.Malah tidak lama kemudian, dia terbunuh juga.Bisa jadi karena diburu oleh waktu, Tuan Mark Rongghes ingin segera menuntaskan tugasnya.Pada satu kesempatan,dia berhasil menghardikkan gobangnya,kebetulan kena Menir van Dehren.Tuan Mark buru-buru merebut kuda.Sesudah itu,badan Menir van Dehren dibawa ke kuda.Kabur menjauhi tempat itu.Jasad Menir van Dehren dibawa ke desa Puhun.Di halaman,mayat Manir van Dehren diperlihatkan kepada rakyat yang sudah berkumpul.”Ik sudah bisa membalas kesakit hatian orang sini.Ini Si Dehren sama Ik sudah dibinasakan!” kata Tuan Mark Rongghes sambil melihat Nyi Nanah Darmi.

4.Asal Kata Marongge

Jasa Tuan Mark Rongghes yang membela orang desa, dibayar dengan mahal.Selain dari teman yang lima orang meninggal semua,marabahaya juga sedang mengancam Desa Puhun.Ada kabar bahwa Menir van Dehren tewas oleh Tuan Mark Ronghess sambil mayatnya dibawa ke Desa Puhun, sudah sampai ke pasukan Kompeni di Kadipaten. Sebab itu, Kompeni dari Kadipaten sudah merencanakan menghadang Desa Puhun.Kabar ini juga sudah didengar oleh warga desa Puhun.Para wanita pada khawatir.Anak-anak pada menangis.””Ungsikan para wanita dan anak-anak.Kakek-kakek dan nenek-nenek juga,bawa pergi yang jauh.Sebentar lagi di kampung ini bakal ada banjir darah!” kata Lurah Adih.Sembari tidak punya waktu untuk membawa barang-barang,yang mengungsi ketar-ketir pergi jauh dari kampung.Cuma lelaki perkasa yang menjaga kempung.”Pasukan militer” hasil pelatihan oleh Tuan Mark Rongghes, termasuk yang siap menjaga kmpung.Tapi sayangnya, dari puluhan anggota militer, pistolnya Cuma belasan jumlahnya.Kalau begitu,jumlahnya tidak cukup.Itu juga dapat mencuri dari markas Kompeni.Pada waktunya, benar saj kampung diserang.Anggota Kompeni,jumlahnya ratusan.Dilengkapi engan pistol dorlok.Tuan Mark rongghes mengatur siasat.”Musuh yang datang jangan dulu diserbu oleh banyak orang.Tugas harus dujalankan oleh pasukan militer!”kata Tuan Mark rongghes.Yang mendengarkan,mengerti maksudnya.Waktu ratusan Kompeni datang, kampung selewat seperti kosong.Walaupun demikian, Kompeni tetap hati-hati.Kosongnya kampung, malah jadi sebab kecurigaan.Bisa jadi marabahaya untuk mengintip.Saat mereka semakin masuk ke kampung, didepan mereka tiba-tiba darderdor pistol dorlok.Datangnya dari sisi dan depan.Pasukan Kompeni kaget.Ada beberapa orang anggotanya yang terbeunuh.Mereka tidak menyangka,orang kampung memiliki pistol.Kseninya teringat.Bahwa pistol yang dipake itu,merupakan barang yang dicuri oleh Mark Rongghes.Sesudah tahu jumlah pistol yang dimilki orang kampunh, pasukan Kompeni memulai membalas dengan tembakan lagi.Serangan dari mereka sendiri lebih banyak.Sebab,pistolnya juga ratusan.Cuma karena pasukan rakyat bersembunyi berpencar, walaupun darderdor, mereka belum ada yang tertembak.Setiap menembakkan pelurunya, setiap ada anggota Kompeni yang tepar. Itu karena Kompeni berkumpul,jadi gampang diarahnya.Cuma saja,tembakan pistol penduduk terbatas.Awal akhirnya,kalau pelurunya sudah habis,suara pistol juga semakin jarang kedengarannya.Kompeni tahu.Kalau sudah begitu,pasukan militer rakyat diseorbot.Cuma saja kalau sudah begitu,dari saban penjuru kampung berdatangan orang-orang,menyerang dengan golok sambil berteriak-teriak.”Serbuuuu!Bunuh!Bunuh Kompeni!!” Perang dimulai.Ratusan Kompeni,melawan ratusan penduduk.Tidak lama dari itu,sudah terdengar jeritan yang tertembak.ada penduduk yang tertembak.ada anggota Kompeni yang dibacok dengan golok tajam.Korban makin banyak.Kompeni mendatangkan bala bantuan.Mereka menunggangi kuda sembari menembak.Kalau sudah begitu,penduduk mulai terdesak.Korbannya semakin bertambah.Mayat bergelimpangan di halaman,disisi jalan,di mana saja.Kekuatan rakyat semakin lama semakin habis dikeroyok pistol Kompeni.Satu-persatu tumbang.Yang berpikir panjang,memilih kabur meninggalkan peperangan.Adih Purnamantanta, Lurah desa Puhun selamat.Begitu juga dengan Sultan Kohreun dan Atmadijaya,kabur.Mark rongghes tidak meninggal.Tapi dia disandera oleh belasan anggota Kompeni.Mark dianiaya oleh bangsanya sendiri.Mark rongghes yang sudah berdarah sekujur tubuh, diseret dibawa ke alun-alun desa.Oleh Komandan ditanya dulu.”Heh,jij bangsa apa,hah?” Mark rongghes tidak menjawab.entah tidak mau menjawab,entah tidak kuat menahan sakit.”Dengarkan bodoh!Jij the bangsa Belanda.Tapi kenapa,memalukan diri sendiri,malah berteman dengan bangsa pribumi?Apa Jij tidak tahu,semua bangsa Belnada,termasuk keluarga jij,benci pada jij?” kata Komandan Kompeni sambil menjambak rambut Mark Rongghes.Sudah itu, wajah Mark Rongghes dipukul.Maka darah bercucuran dari wajahnya.Mark Rongghes,mantan anggota Kompeni,tidak mendapat ampun dari pemerintahnya.Mereka dianggap sudah menjatuhkan derajat bangsanya yang sudah jadi pengkhianat.Saat itu juga dihadapan semuanya, Mark rongghes ditembak mati. Mark rongghes sekarat karena membela bangsa pribumi.Katanya selama tiga tahun dia membela rakyat Desa Puhun.Walaupun tidak semua, orang Desa Puhun banyak yang ditembak dan tijatuhi hukuman.Sultan Kohreun dan Atmadijaya, disandera beberapa tahun lalu.Mereka juga sama dijatuhi hukuman pati.Nasib yang sama juga dialami oleh Lurah Adih Purnamantanta.Beberapa tahun sesudah kejadia, mereka merasa sudah selamat dari bahaya.Namaun tidak,diketahui oleh centeng bangsa pribumi.Waktu itu, Lurah Adih sudah lama tinggal di kampung kecil.Malah sudah merasa aman.Di kampung itu tidak mengaku dia bernama Adih Purnamantanta.Cuma,pada suatu saat,ada orang baru bertemu.Siapa namanya tidak ada yang tahu.Cuma,orang kampung tahunya dia adalah seorang centeng.Yaitu tukang pukul yang berbakti pada Kompeni.Tugasnya,mengintip-intip bangsanya kalau ada yang melawan Belanda.Lurah adih yang sedang menyamar, curiga tidak curiga.Tidak curiga,kenapa orang itu tidak kenal dengan dirinya.Curiganya, kenapa ada centeng Kompeni tiba-tiba merantau ke kampung tersembunyi? Lurah Adih tetap hati=hati dalam memperhatikan orang itu. Cuma saja, kesininya hatinya merasa tenang.Centeng itu pada auatu hari pergi meninggalkan kampung.Tapi maksud kepergiannya bukan sekedar untuk pergi.Pulang juga bukan untuk sekedar pulang.Pulang lagi ke Kadipaten sambil member laporan kemajikannya,yaitu Kompeni.”Saya sudah menemukan Lurah Adih..”katanya pada Komandan kompeni di markas.”Bagaimana jij tahu kalau dia Lurah Adih?” “Sebab ada tanda pada keningnya.Kan kata anggota Kompeni yang ikut mengepung Desa Puhun, Lurah Adih tertembak oleh peluru pada keningnya.Selama di kampung kecil,dia menyamar.Oleh saya diintip.Waktu sedang mandi di sungai,ternyata benar saja ada tanda dikeningnya bekas peluru,”kata centeng.Menderngar laporan itu, Komandan Kompeni merasa gembira.Saat itu juga si centeng dibayar dengan uang gulden beberapa keping.”Tapi kalau jij sanggup menangani dia,bakal saya kasih lebih banyak gulen,”kata Komandan kompeni.Si Centeng tersenyum bahagia diberi tugas seperti itu.Dia langsun g menyanggupi.Keesokan harinya, si Centeng sudah tiba lagi di desa tersembunyi temapt Lurah Adih.Cuma sekarang datangnya diam-daiam.Si Centeng memilih waktu,kapan harus menculik Lurah Adih.Saat Lurah Adih akan mandi di sungai,si Centeng memanggil.”Hey!Adih”cenah.Lurah Adih menoleh karena ada yang memanggilnya.Saat tahu siapa yang memanggilnya,dia langsung terkejut.Ternyata itu si Centeng Kompeni!Celaka saya…” kata Lurah Adih sambil loncat menjauhi sungai.Hanya saja, Si Centeng tidak diam saja.Lurah Adih dikejar.Sudah dapat,diringkus tidak berdaya.Besoknya langsung orang kampung rebut. “Mang Kanta menggantung diri!Mang Kanta menggantung diri!”cenah.Di desa itu,Lurah Adih dikenalnya Mang Kanta.Yang perang di Desa Puhun sudah tewas semua.Tapi Kompeni tidak berani lengang lagi.Puluhan tahun dari itu, Desa Puhun tetap dianggap temapt yang sanagr,yang penduduknya tidak suka pada penjajah.Walaupun sudah tidak ada perlawanan, tapi dendam orang desa pada Kompeni tidak hilang.Itu terbukti, sesudah beberapa kali berganti lurah, di alun-alun desa pernah ada arca Mark rongghes. Orang desa tetap menghormati Mark Rongghes, yaitu orang Belanda yang saying pada bangsa pribumi.Mnerima laporan bahwa di Desa Puhun ada arca Mark Rongghes, pasukan Kompeni datang.Mereka menghancurkan arca itu.Berganti tahun,ganti pula lurahnya.Nama Mark Rongghes tetap ada pada sanubari penduduk.Bahkan nama desa juga lama-kelamaan berganti.Yang member nama orang Belanda sendiri.Desa Mark Rongghes.Maksudnya,desa kawasan Mark Rongghes.Kesininya,orang sana suka menyebutnya Marongge yang harusnya Mark Rongghes.Karena mereka merasa Marongge lebih gampang diucapkan daripada Mark Rongghes.Samapi sekarang, jadi dikenalnya desa Marongge saja.Tentu saja itu hanya satu versi.Karena,kebanyakan orang Maronngenya menyebutkan,bahwa kata Marongge merupakan asal dari nama satu pohon yang meutupi makamnya Nyi Naibah,katanya.Tapi tidakm usah diributkan.Sebab lebih banyak dongeng sasakala,berarti lebih kaya pada pengetahuan kita.

Tags : #
Share On :




Related