sang pewaris luka part 2

Audina Isnainzah N A
3 view / 1804 show
3 years ago
Entertainment

Februari 2010                                                 

Aku masih mencintaimu sayang, masih. Bahkan ketika kau sudah mengirimiku pesan akan hari pernikahanmu itu. Aku membencimu, sayang. Seharusnya aku membencimu karena apa yang kau pernah tinggalkan di tubuhku – jejak dari tubuhmu. Waktu terasa lama, sayang. Ketika aku memikirkan kau tengah bahagia berangkulan dan bercumbu dengan isterimu. Tapi sayang, apa kau pernah tahu ? Kau memberinya sakit yang tak pernah tampak. Luka yang tak pernah terasa dan benci yang tak kunjung padam. Kau memberinya dusta yang takkan usai. Karena tubuhmu adalah aku, serta sajak yang kubacakan di setiap sentuhan kita – dulu.

“Ningrum, boleh duduk disini?” Begitulah setiap hari dia menemaniku di sela-sela pikiran tentangmu. Dua tahun duduk di bangku kuliah bahkan belum lagi cukup untuk membuatku lupa akan kenangan yang pernah kita sebut hitamnya di kemudian hari. Aku pernah mencoba untuk memikirkan sakitnya dan terhinanya dulu, setelah aku bahkan dengan sadar memberimu dosa yang aku pun tidak tahu jumlahnya. Kita bahkan tertawa, sayang. Apa kau pernah pikirkan betapa bodohnya hari itu ? laknat !

“Ning ?” Lagi-lagi lelaki itu mencoba mendekatiku. “Iya Rama” Jawabku sekenanya. “Udah makan siang kamu? Dari pagi ditekuk aja mukanya, ada masalah?”. “Tidak, Tidak ada apa – apa, Rama” Ucapku bohong, karena ini Februari dan aku berkata tidak apa –apa bahkan di bulan ini di mana dua tahun yang lalu kita bergenggaman, berangkulan dan bahagia sayang. Ini Februari, dan ingatkah engkau ketika kita saling mengucap cinta. Ah, aku lupa bahwa kau telah menjadi bangsat !

“Aku pergi duluan Rama, ada kelas sepuluh menit lagi” Aku beranjak, lagi – lagi tanpa menunggu jawaban dari lelaki itu.

Sayang, bukan kah pernah ku katakan ‘bahwa aku mencintaimu di dunia dan juga di tempat yang lain. O, sayang. Pernahkah kau berfikir sebesar apa lautan cinta yang sudah kubuat. Aku bahkan tenggelam di dalamnya, bersama kenangan tentang cinta, rindu, harapan dan anak kita.

Dan sayang, kau telah pergi. Begitu juga adanya kita. Maka cabutlah rasa itu dari dadaku yang koyak. Agar aku berani tautkan cinta di hatinya yang telah lama mendamba aku – kekasihmu.

 

continue. .

http://conaxe.com/v1/page-295-sang-pewaris-luka-part-1.html

Share On :