MEMBACA PERMULAAN DI KELAS RENDAH

Siti Fatimah Agustini
2 view / 32843 show
2 years ago
Education

1. Pengertian Membaca Permulaan

Membaca permulaan menekankan pada proses penyandian membaca secara mekanikal. Membaca permulaan mengacu pada proses recoding dan decoding . Membaca merupakan suatu proses yang bersifat fisik dan psikologis. Proses yang bersifat fisik berupa kegiatan mengamati tulisan secara visual. Dengan indera visual, pembaca mengenali dan membedakan gambar-gambar bunyi serta kombinasinya. Melalui proses recoding, pembaca mengasosiasikan gambar-gambar bunyi beserta kombinasinya itu dengan bunyi-bunyinya. Dengan proses tersebut, rangkaian tulisan yang dibacanya menjelma menjadi rangkaian bunyi bahasa dalam kombinasi kata, kelompok kata, dan kalimat yang bermakna.

 Disamping itu, pembaca mengamati tanda-tanda baca untuk membantu memahami maksud baris-baris tulisan. Proses psikologis berupa kegiatan berpikir dalam mengolah informasi. Melalui proses decoding, gambar-gambar bunyi dan kombinasinya diidentifikasi, diuraikan kemudian diberi makna. Proses ini melibatkan knowledge of the world dalam skemata yang berupa kategorisasi sejumlah pengetahuan dan pengalaman yang tersimpan dalam gudang ingatan. Menurut La Barge dan Samuels proses membaca permulaan melibatkan tiga komponen, yaitu (a) visual memory (vm), (b) phonological memory (pm), dan (c) semantic memory (sm). Lambang lambang fonem tersebut adalah kata, dan kata dibentuk menjadi kalimat. Proses pembentukan tersebut terjadi pada ketiganya. Pada tingkat visual memory (VM), huruf, kata dan kalimat terlihat sebagai lambang grafis, sedangkan pada tingkat phonological memory (PM) terjadi proses pembunyian lambang. Lambang tersebut juga dalam bentuk kata, dan kalimat. Proses pada tingkat ini bersumber dari visual memory (VM) dan phonological memory (PM). Akhirnya pada tingkat semantic memory (SM) terjadi proses pemahaman terhadap kata dan kalimat.

 Selanjutnya dikemukakan bahwa untuk memperoleh kemampuan membaca diperlukan tiga syarat, yaitu kemampuan membunyikan (a) lambang-lambang tulis, (b) penguasaan kosakata untuk memberi arti, dan (c) memasukkan makna dalam kemahiran bahasa. Pada tingkatan membaca permulaan, pembaca belum memiliki ketrampilan kemampuan membaca yang sesungguhnya, tetapi masih dalam tahap belajar untuk memperoleh ketrampilan atau kemampuan membaca.

 Membaca pada tingkatan ini merupakan kegiatan belajar mengenal bahasa tulis. Melalui tulisan itulah siswa dituntut dapat menyuarakan lambang-lambang bunyi bahasa tersebut,untuk memperoleh kemampuan membaca diperlukan tiga syarat, yaitu kemampuan membunyikan (a) lambang-lambang tulis, (b) penguasaan kosakata untuk memberi arti, dan (c) memasukkan makna dalam kemahiran bahasa. Membaca permulaan merupakan suatu proses ketrampilan dan kognitif. Proses ketrampilan menunjuk pada pengenalan dan penguasaan lambang-lambang fonem, sedangkan proses kognitif menunjuk pada penggunaan lambang-lambang fonem yang sudah dikenal untuk memahami makna suatu kata atau kalimat.

2. Tujuan Membaca Permulaan

Pembelajaran membaca permulaan diberikan di kelas I, II, dan III. Tujuannya adalah agar siswa memiliki kemampuan memahami dan menyuarakan tulisan dengan intonasi yang wajar, sebagai dasar untuk dapat membaca lanjut. Tujuan membaca permulaan juga dijelaskan dalam (Depdikbud, 1994:4) yaitu agar “Siswa dapat membaca kata-kata dan kalimat sederhana dengan lancar dan tepat“.

Pelaksanaan membaca permulaan di kelas I Sekolah Dasar dilakukan dalam dua tahap, yaitu membaca periode tanpa buku dan membaca dengan menggunakan buku. Pembelajaran membaca tanpa buku dilakukan dengan cara mengajar dengan menggunakan media atau alat peraga selain buku misalnya kartu gambar, kartu huruf, kartu kata dan kartu kalimat. Pembelajaran membaca dengan buku merupakan kegiatan membaca dengan menggunakan buku sebagai bahan pelajaran.

3. Persiapan Membaca Permulaan

Langkah-langkahnya yaitu :

  1. Penguatan prosedur kelas (siswa focus dan tenang) dan etika membaca (menjaga kebersihan buku, berbagi bila buku digunakan bersama).
  2. Cara duduk siswa (posisi duduk tegak)
  3. Cara membuka buku (dari halaman depan ke belakang)
  4. Mengatur jarak mata ke buku (jarak pandang antara mata dan buku ± 40 cm)
  5. Melatih cara membaca dari kiri ke kanan.

4. Metode-metode Membaca Permulaan

Dalam pembelajaran membaca permulaan ada beberapa metode membaca permulaan yang bisa diterapkan antara lain:

  1. Metode Abjad.

Mula-mula guru memperkenalkan huruf (abjad) kepada siswa: a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z. Selain yang dipasang di papan tulis, masing-masing huruf tadi juga perlu ditulis dalam sebuah kartu (satu huruf satu kartu.  Guru memberikan contoh cara membaca huruf-huruf di atas, dan siswa menirukan. Mula-mula bersifat klasikal (seluruh kelas), kemudian dipecah-pecah lagi menjadi separoh kelas, seperempat kelas, per dua bangku, akhirnya perorangan, kembali dua bangku, seperempat kelas, separoh kelas, dan kembali ke seluruh kelas.

Apabila pengenalan huruf tadi sudah lancar, maka guru mulai bisa menugaskan beberapa siswa untuk mengambil huruf-huruf tertentu dari kartu-kartu huruf yang tersedia.Biarkan siswa mengenal huruf-huruf itu tanpa makna karena tujuannya adalah mengenal dan memahami huruf (abjad).Lakukan kegiatan ini berulang-ulang sehingga siswa benar-benar mengenal dan memahami huruf-huruf itu.

Selanjutnya, kegiatan dapat ditingkatkan dengan membentuk kata.Pilih beberapa konsonan dan vokal, yang apabila digabungkan bisa menjadi kata yang bermakna. Misalnya: m a m a. Tempel atau tulis huruf m-a-m-a di papan tulis. Tunjukkan kepada siswa bahwa kata itu dibaca mama.

Kemudian tanyakan kepada siswa kata mama itu terdiri dari huruf apa saja, dan arahkan agar siswa dapat menyimpulkan sendiri bahwa apabila huruf m digabung dengan huruf a dibaca ma. Berikan contoh yang lain, misalnya: papa, nana, tata, dan lain-lain.

Begitu seterusnya, guru mulai menggabung-gabungkan konsonan dengan vokal, sehingga seluruh vokal (a, e, i, o, u) bisa digunakan.Namun untuk konsonan tidak perlu diberikan semua.Huruf x dan z lebih baik diberikan belakangan.

Setelah siswa bisa membaca gabungan dua huruf konsonan-vokal, susunan bisa diganti menjadi vokal-konsonan. Misalnya: am, an, as, dan lain-lain. Setelah ini baru bisa dilanjutkan dengan tiga huruf (konsonan-vokal-konsonan). Misalnya: man, dan, bas, dan lain-lain.

2. Metode Eja

    Metode eja adalah belajar membaca yang dimulai dari mengeja huruf demi huruf. Pendekatan yang dipakai dalam metode eja adalah pendekatan harfiah. Siswa mulai diperkenalkan dengan lambang-lambang huruf. Pembelajaran metode Eja terdiri dari pengenalan huruf atau abjad A sampai dengan Z dan pengenalan bunyi huruf atau fonem.

Pembelajaran membaca permulaan dengan metode ini memulai pengajarannya dengan memperkenalkan huruf-huruf secara alpabetis. Huruf-huruf tersebut dihafalkan dan dilafalkan anak sesuai dengan bunyinya menurut abjad. Sebagai contoh A/a, B/b, C/c, D/d, E/e, F/f, dan seterusnya, dilafalkan sebagai [a], [be], [ce], [de], [ef], dan seterusnya.. Setelah melalui tahapan ini, para siswa diajak untuk berkenalan dengan suku kata dengan cara merangkaikan beberapa huruf yang sudah dikenalnya.

Misalnya : 

b, a, d, u menjadi b-a ba (dibaca atau dieja /be-a/ be-a [ba ])

d-u du (dibaca atau dieja /de-u/ de- u [du])

ba-du dilafalkan /badu/

 

b, u, k, u menjadi b-u bu (dibaca atau dieja /be-u/ be-u[bu] )

k-u ku (dibaca atau dieja / ke-u/ ke-u [ku] )

Proses pembelajaran selanjutnya adalah pengenalan kalimat-kalimat sederhana. Contoh-contoh rangkaian huruf menjadi suku kata, suku kata menjadi kata, dan kata menjadi kalimat diupayakan mengikuti prinsip pendekatan spiral, pendekatan komunikatif, dan pengalaman berbahasa. Artinya, pemilihan bahan ajar untuk pembelajaran membaca permulaan hendaknya dimulai dari hal-hal yang konkret menuju hal-hal yang abstrak, dari hal-hal yang mudah, akrab, familiar dengan kehidupan anak menuju hal-hal yang sulit dan mungkin merupakan sesuatu yang baru bagi anak.

Anak yang baru mulai belajar membaca, mungkin akan mengalami kesukaran dalam memahami sistem pelafalan bunyi /b/ dan /a/ menjadi [ba], bukan [bea]. Bukankah huruf /b/ dilafalkan [be] dan huruf /a/ dilafalkan [a]. Mengapa kelompok huruf /ba/ dilafalkan [ba], bukan [bea], seperti tampak pada pelafalan awalnya? Hal ini, tentu akan membingungkan anak. Penanaman konsep hafalan abjad dengan menirukan bunyi pelafalannya secara mandiri, terlepas dari konteksnya, menyebabkan anak mengalami kebingungan manakala menghadapi bentukan bentukan baru, seperti bentuk kata tadi. Di samping hal tersebut, hal lain yang dipandang sebagai kelemahan dari penggunaan metode ini adalah dalam pelafalan diftong dan fonem-fonem rangkap, seperti /ng/, /ny/, /kh/, /ai/, /au/, /oi/, dan sebagainya. Sebagai contoh, kita ambil fonem /ng/. Anak-anak mengenal huruf tersebut sebagai [en] dan [ge]. Dengan demikian, mereka berkesimpulan bahwa fonem itu jika dilafalkan akan menjadi [en-ge] atau [neg] atau [nege].

 Kelebihan metode eja

  • Siswa diharuskan untuk mengetahui setiap lambang huruf jadi siswa lebih cepat dan hafal dari alphabet.
  • Siswa langsung mengetahui bunyi dari setiap bentuk huruf.
  • Siswa diharuskan untuk mengetahui setiap lambang huruf kemudian menyusunnya  menjadi kata maka membutuh kan waktu yang lama.
  • Apabila tidak diulang terus menerus kebanyakan siswa akan mudah lupa antara bentuk dan bunyi huruf tersebut.
  1. Metode Bunyi

Metode ini sebenarnya merupakan bagian dari metode eja. Prinsip dasar dan proses pembelajarannya tidak jauh berbeda dengan Metode Eja/Abjad di atas. Demikian juga dengan kelemahan-kelemahannya. Perbedaannya terletak hanya pada cara atau sistem pembacaan atau pelafalan abjad (huruf-hurufnya).

Sebagai contoh:

  • Huruf /b/ dilafalkan [eb].
  • /d/ dilafalkan [ed] /g/ dilafalkan [eg]
  • /p/ dilafalkan [ep]
  • Dilafalkan dengan e pepet seperti pelafalan /e/ dilafalkan [e] pada kata benar, keras, pedas, lemah. Dengan demikian. kata "nani" dieja menjadi: /en-a/ [na]  /en-i/ [ni]  dibaca [na-ni].
  1. Metode Suku Kata

Proses pembelajaran membaca permulaan dengan metode ini diawali dengan pengenalan suku kata, seperti /ba, bi, bu, be, bo/; /ca, ci, cu, ce, co/; /da, di, du, de, do/; /ka, ki, ku, ke, ko/, dan seterusnya. Suku-suku kata tersebut, kemudian dirangkaikan menjadi kata-kata bermakna. Sebagai contoh, dari daftar suku kata tadi, guru dapat membuat berbagai variasi paduan suku kata menjadi kata-kata bermakna, untuk bahan ajar membaca permulaan. Kata-kata dimaksud, misalnya:

bo - bi, cu - ci,  da - da, ka - ki, bi - bu, ca - ci,  di - da,  ku - ku,  bi - bi,  ci - ca,

da – du, ka – ku,  ba – ca,  ka – ca,  du – ka,  ku – da

 

Kegiatan ini dapat dilanjutkan dengan proses perangkaian kata menjadi kelompok kata atau kalimat sederhana. Contoh perangkaian kata menjadi kalimat dimaksud, seperti tampak pada contoh di bawah ini.

ka-ki  ku-da, ba-ca bu-ku, cu–ci ka–ki (dan sebagainya).

Proses perangkaian suku kata menjadi kata, kata menjadi kelompok kata atau kalimat sederhana, kemudian ditindaklanjuti dengan proses pengupasan atau penguraian bentuk-bentuk tersebut menjadi satuan-satuan bahasa terkecil di bawahnya, yakni dari kalimat ke dalam kata-kata dan dari kata ke suku-suku kata. Proses pembelajaran membaca permulaan  yang melibatkan kegiatan merangkai dan mengupas, kemudian melahirkan istilah lain untuk metode ini, yakni Metode Rangkai-Kupas.

Jika kita simpulkan, langkah-langkah pembelajaran membaca permulaan dengan metode suku kata adalah:

  1. Tahap pertama, pengenalan suku-suku kata;
  2. Tahap kedua, perangkaian suku-suku kata menjadi kata;
  3. Tahap ketiga, perangakaian kata menjadi kelompok kata atau kalimat sederhana;
  4. Tahap keempat, pengintegrasian kegiatan perangakaian dan pengupasan suku-suku kata.

Adapun kelebihan dan kekurangan metode suka kata adalah sebagai berikut:

  1. Kelebihan metode suku kata
  • Dalam membaca tidak ada mengeja huruf demi huruf sehigga mempercepat proses penguasaan kemampuan membca permulaan.
  • Dapat belajar mengenal huruf dengan mengupas atau menguraikan suku kata suku kata yang dipergunakan dalam unsur-unsur hurufnya.
  • Penyajian tidak memakan waktu yang lama.
  • Dapat secara mudah mengetahui berbagai macam kata.
  1. Kelemahan metode suku kata
  • Bagi anak kesuliatan belajar yang kurang mengenal huruf, akan mengalami kesulitan merangkaikan huruf menjadi suku kata.
  • Siswa akan sulit bila disuruh membaca kata-kata lain, karena mereka akan condong mengingat suku kata yang diajarkan saja.
  1. Metode Kata

Proses pembelajaran membaca permulaan diawali dengan pengenalan sebuah kata tertentu. Kata ini, kemudian dijadikan lembaga sebagai dasar untuk pengenalan suku kata dan huruf. Artinya, kata dimaksud diuraikan (dikupas) menjadi suku kata, suku kata menjadi huruf-huruf. Selanjutnya, dilakukan proses perangkaian huruf menjadi suku kata dan suku kata menjadi kata.

Dengan kata lain, hasil pengupasan tadi dikembalikan lagi ke bentuk asalnya sebagai kata lembaga (kata semula). Karena proses pembelajaran membaca permulaan dengan metode ini melibatkan serangkaian proses pengupasan dan perangkaian maka metode ini dikenal juga sebagai "Metode Kupas-Rangkai" (sebagai lawan dari metode suku kata yang biasa juga disebut metode rangkai-kupas). Sebagian orang menyebutnya "Metode kata" atau "Metode kata lembaga".

  1. Kelebihan metode kata
  • Dalam membaca tidak ada mengeja huruf demi huruf sehigga mempercepat proses penguasaan kemampuan membca permulaan.
  • Langsung mengetahui kata tanpa harus mengejenya, yang dapat meperlambat proses pengajaran.
  1. Kelemahan metode global
  • Biasanya anak tidak langsung bisa membaca perkata.
  • Susah diterapkan pada anak yang mempunyai intelejensi kurang.
  1. Metode Global

Sebagian orang mengistilahkan metode ini sebagai "Metode kalimat". Dikatakan demikian, karena alur proses pembelajaran membaca permulaan yang diperlihatkan melalui metode ini diawali dengan penyajian beberapa kalimat secara global. Untuk membantu pengenalan kalimat dimaksud, biasanya digunakan gambar. Di bawah gambar dimaksud, dituliskan sebuah kalimat yang kira-kira merujuk pada makna gambar tersebut.

Sebagai contoh, jika kalimat yang diperkenalkan berbunyi "ini nani", maka gambar yang cocok untuk menyertai kalimat itu adalah gambar seorang anak perempuan. Selanjutnya, setelah anak diperkenalkan dengan beberapa kalimat, barulah proses pembelajaran membaca permulaan dimulai. Mula-mula, guru mengambil salah satu kalimat dari beberapa kalimat yang diperkenalkan di awal pembelajaran tadi. Kalimat tersebut dijadikan dasar atau alat untuk pembelajaran membaca permulaan. Melalui proses deglobalisasi (proses penguraian kalimat menjadi satuan-satuan yang lebih kecil, yakni menjadi kata, suku kata, dan huruf), selanjutnya anak menjalani proses belajar membaca permulaan.

Proses penguraian kalimat menjadi kata, kata menjadi suku kata, suku kata menjadi huruf-huruf, tidak disertai dengan proses sintesis (perangkaian kembali). Artinya, huruf-huruf yang telah terurai itu tidak dikembalikan lagi pada satuan di atasnya, yakni suku kata. Demikian juga dengan suku-suku kata, tidak dirangkaikan lagi menjadi kata; kata-kata menjadi kalimat.

Sebagai contoh, di bawah ini dapat Anda lihat bahan untuk membaca permulaan yang menggunakan Metode global.

1. Memperkenalkan gambar dan kalimat

 

ini   kuda

2. Menguraikan salah satu kalimat menjadi kata; kata menjadi suku kata; suku kata menjadi huruf-huruf. 

ini dadu

ini     dadu

i-ni            da- du

i-n-i                 d-a-d-u

3. Kelebihan metode global

  • Karena menggunakan gambar maka siswa lebih cepat mengerti dan hafal.
  1. Kelemahan metode global
  • Metode global memakai gambar metode ini tidak bisa diterapkan di SD daerah pedesaan karena untuk mendapatkan gambar sangat sulit, jauh dari tempat fotocopy atau print.
  • Mungkin siswa akan menghafal gambar saja, dan tidak terlalu memperhatikan kalimatnya.
  1. Metode SAS

SAS merupakan singkatan dari ‘’Struktural Analitik Sintetik’’. Metode SAS merupakan salah satu jenis metode yang bisa digunakan untuk proses pembelajaran membaca dan menulis permulaan bagi siswa pemula.

Pembelajaran membaca permulaan dengan metode ini mengawali pelajarannya dengan menampilkan dan memperkenalkan sebuah kalimat utuh. Mula-mula anak disuguhi sebuah struktur yang memberi makna lengkap, yakni struktur kalimat. Hal ini dimaksudkan untuk membangun konsep-konsep "kebermaknaan" pada diri anak.

Akan lebih baik jika struktur kalimat yang disajikan sebagai bahan pembelajaran membaca permulaan dengan metode ini adalah struktur kalimat yang digali dari pengalaman berbahasa siswa itu sendiri. Untuk itu, sebelum pembelajaran membaca permulaan yang sesungguhnya dimulai, guru dapat melakukan pra-kegiatan belajar mengajar melalui berbagai cara. Sebagai contoh, guru dapat memanfaatkan rangsang gambar, benda nyata, tanya jawab informal untuk menggali bahasa siswa. Setelah ditemukan suatu struktur kalimat yang dianggap cocok untuk materi membaca permulaan, barulah KBM membaca permulaan yang sesungguhnya dimulai. Pembelajaran membaca permulaan dimulai dengan pengenalan struktur kalimat.

Kemudian, melalui proses analitik, anak-anak diajak untuk mengenal konsep kata. Kalimat utuh yang dijadikan tonggak dasar untuk pembelajaran membaca permulaan ini diuraikan ke dalam satuan-satuan bahasa yang lebih kecil yang disebut kata. Proses penganalisisan atau penguraian ini terus berlanjut hingga pada wujud satuan bahasa terkecil yang tidak bisa diuraikan lagi, yakni huruf-huruf. Proses penguraian atau penganalisian dalam pembelajaran membaca dengan metode SAS, meliputi:

  1. kalimat menjadi kata-kata
  2. kata menjadi suku-suku kata, dan
  3. suku kata menjadi huruf-huruf.

Pada tahap selanjutnya, anak-anak didorong untuk melakukan kerja sintesis (menyimpulkan). Satuan-satuan bahasa yang telah terurai tadi dikembalikan lagi kepada satuannya semula, yakni dari huruf-huruf menjadi suku kata, suku-suku kata menjadi kata, dan kata-kata menjadi kalimat. Dengan demikian, melalui proses sintesis ini, anak-anak akan menemukan kembali wujud struktur semula, yakni sebuah kalimat utuh. Melihat prosesnya, tampaknya metode ini merupakan campuran dari metode-metode membaca permulaan seperti yang telah kita bicarakan di atas.

Oleh karena itu, penggunaan metode SAS dalam pengajaran membaca permulaan pada sekolah-sekolah kita ditingkat sekolah dasar pernah dianjurkan, bahkan diwajibkan pemakaiannya oleh perintah. Beberapa manfaat yang dianggap sebagai kelebihan dari metode ini, di antaranya sebagai berikut ini.

  1. Metode ini sejalan dengan prinsip linguistik (ilmu bahasa) yang memandang satuan bahasa terkecil yang untuk berkomunikasi adalah kalimat. Kalimat dibentuk oleh satuan-satuan bahasa dibawahnya, yakni kata, suku kata, dan akhirnya fonem (huruf-huruf).

(2)    Metode ini mempertimbangkan pengalaman berbahasa anak. Oleh karena itu, penga- jaran akan lebih bermakna bagi anak karena bertolak dari sesuatu yang dikenal dan diketahui anak. Hal ini akan memberikan dampak positif terhadap daya ingat dan pemahaman anak.

(3)        Metode ini sesuai dengan prinsip inkuiri (menemukan sendiri). Anak mengenal dan memahami sesuatu berdasarkan hasil temuannya sendiri. Sikap seperti ini akan membantu anak dalam mencapai keberhasilan belajar.

 Bahan ajar untuk pembelajaran membaca permulaan dengan metode ini tampak seperti berikut.

ini mama

ini                 mama

i - ni               ma - ma

i-n-i                       m-a-m-a

i - ni              ma - ma

ini                 mama

ini     mama

Metode ini yang dipandang paling cocok dengan jiwa anak atau siswa adalah metode SAS menurut Supriyadi dkk (1992). Alasan mengapa metode SAS ini dipandang baik adalah:

  1. Metode ini menganut prinsip ilmu bahasa umumbahwa bentuk bahasa

       terkecil adalah kalimat.

  1. Metode ini memperhitungkan pengalaman bahasa anak.
  2.  Metode ini menganut prinsip menemukan sendiri.

Metode SAS memiliki kelebihan dan kekurangan, yaitu:

  1. Kelebihan metode SAS
  • Metode ini dapat sebagai landasan berpikir analisis.
  • Dengan langkah-langkah yang diatur sedemikian rupa membuat                              anak mudah mengikuti prosedur dan akan dapat cepat membaca                          pada kesempatan berikutnya
  • Berdasarkan landasan linguistik metode ini akan menolong anak -                           menguasai bacaan dengan lancar.
  1. Kelemahan metode SAS
  • Metode SAS mempunyai kesan bahwa pengajar harus kreatif dan terampil serta sabar. Tuntutan semacam ini dipandang sangat sukar untuk kondisi pengajar saat ini.
  • Banyak sarana yang harus dipersiapkan untuk pelaksanaan metode ini untuk sekolah sekolah tertentu dirasa sukar.
  • Metode SAS hanya untuk konsumen pembelajar di perkotaan dan tidak di pedesaan.
  • Oleh karena agak sukar mengajarkan para pengajar metode SAS maka di sana-sini Metode ini tidak dilaksanakan.

Source image : 

http://www.mewarnai.us/images/68163-kuda-termasuk-hewan-herbivora-yaitu-hewan-pemakan-tumbuhan-atau-rumput.jpg

http://3.bp.blogspot.com/-ZkCIv9QXyDY/U3yMltPhSPI/AAAAAAAAFYQ/eSoma6MO3N0/s1600/writing.jpg

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share On :