Kampung Naga - Kampung Adat di Jawa Barat

Siti Fatimah Agustini
4 view / 2814 show
2 years ago
Education

Hay sobat CONAXElaugh pada kesempatan kali ini saya akan berbagi cerita tentang Kampung Naga. Sebenarnya saya sudah lama melakukan observasi ke tempat tersebut, hanya saja pada kesempatan kali ini saya punya waktu untuk bisa memposting ceritanya disini. Hehe laugh eh ngomong- ngomong kalian penasaran ga sih sama Kampung Naga? apakah di Kampung Naga ada  hewan naganya? Hayoo pasti Penasaran kan pengen tau jawabannya? Yuk simak ceritanya laugh

 

Kampung Naga merupakan salah satu kampung adat di wilayah jawa barat yang masih melestarikan adat kebudayaan leluhurnya dari dulu sampai sekarang. Kampung Naga terletak di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Penduduk asli Kampung Naga tidak ada yang mengetahui asal-usul Kampung Naga tersebut atau bisa dibilang mereka “Pareum Obor” sebab konon katanya pada zaman dahulu Kampung Naga sempat mengalami kebakaran, sehingga arsip-arsip tentang Kampung Naga pun ikut terbakar, dan generasi selanjutnya hingga sekarang tidak ada yang mengetahui sejarah tentang Kampung Naga itu sendiri. Ada juga yang mengatakan tentang asal-usul nama “Kampung Naga” yaitu berasal dari kata bahasa sunda “gawir” yang artinya tepi sungai. Letak kampung tersebut berbatasan dengan sungai Ciwulan, oleh karena itu diberi nama lampung naga, maksudnya “Nagawir” atau kampung di tepi sungai. Nah guys sekarang sudah tau kan bahwa Kampung Naga tidak ada kaitannya dengan hewan naga :D kalo ga percaya kalian datang aja ke Kampung Naga, terus kalian cari deh hewan naga disana, saya jamin sampai kucing bertelur pun kalian ga bakalan nemu tuh hewan naga laugh Kampung Naga terkenal karena banyak memiliki keunikan, salah satu keunikannya yaitu masyarakat/penduduk Kampung Naga seperti tidak terpengaruh dengan modernitas dan sampai saat ini penduduk Kampung Naga masih memegang teguh adat istiadat yang diwariskan oleh nenek moyangnya secara turun temurun.

Dari struktur bangunan yang ada di Kampung Naga juga sangat unik, seluruh bangunan mengarah kearah kiblat. Luas areal Kampung Naga yang dipakai untuk daerah pemukiman yaitu seluas 1,5 hektar.  Jumlah bangunan keseluruhan sebanyak 113 bangunan yang terdiri dari 110 rumah, 1 mesjid dan 2 bale kampung. Jumlah kepala keluarga yang ada di Kampung Naga sebanyak 108 kepala keluarga, jumlah penduduk keseluruhan yaitu 314 orang. Agama yang dianut oleh penduduk Kampung Naga yaitu agama islam. Mata pencaharian masyarakatnya dari bercocok tanam/bertani. Mereka bercocok tanam padi, padi tersebut tidak dijual melainkan untuk kebutuhan hidup atau dikonsumsi. Adapun pekerjaan sampingan dari masyarakat Kampung Naga yaitu berdagang, beternak dan membuat kerajinan tangan. Hasil dari kerjinan tangan yang mereka buat biasanya dijual kepada para pengunjung/observer yang datang.  

Terdapat 3 lembaga adat pada masyarakat Kampung Naga, yaitu kuncen, punduh dan lebe.

-Kuncen               : Bapak Ade Suherlin (Tugasnya yaitu sebagai pemangku adat, memimpin upacara adat)

-Punduh              : Bapak Maun ( tugasnya yaitu Ngurus Laku, meres gawe. Diartikan dalam bahasa indonesia yaitu mengayomi masyarakat)

Lebe      : Bapak Ateng Jaelani (tugasnya mengurus jenazah dan membacakan doa)

Adapun syarat untuk menjadi pemimpin (kuncen) di Kampung Naga yaitu berasal dari keturunan asli, untuk menjadi kuncen tidak boleh dari masyarakat lain tapi harus turun temurun dari keluarga kuncen itu sendiri, selain itu syarat kedua, untuk yang menjadi kuncen harus laki-laki dan syarat yang ke tiga adalah harus sudah dewasa.

Dalam satu tahun masyarakat Kampung Naga melakukan 6 kali upacara adat, mereka melakukan ziarah ke makam nenek moyangnya setiap bulan Muharram, Robiul Awal, Dzumadil Akhir, Nisfu Sa’ban, Syawal, Dzulhizah. Dan yang melaksanakannya semuanya laki-laki.

 

Baju adat/atribut wajib yang harus dipakai saat melakukan upacara yaitu iket, jubah putih, sarung dan sabuk.

Di Kampung Naga juga ada tempat terlarang yang tidak bisa di masuki masyarakat begitu saja, mereka menyebut daerah terlarang tersebut dengan sebutan tempat tabu. Ada dua tempat tabu di Kampung Naga yaitu hutan larangan dan hutan keramat. Selain tempat tabu, ada juga hari/bulan tabu yaitu hari selasa, rabu, bulan safar dan bulan ramadhan. pada hari dan bulan tabu tersebut masyarakat tidak boleh menceritakan sejarah Kampung Naga.

 

Nah sobat CONAXE mungkin hanya sekian cerita dari saya tentang Kampung Naga. Semoga postingan ini dapat bermanfaat. Terima kasihlaugh

Share On :